Jejak Dua Jenderal, Dua Kecepatan Karier

2 menit membaca
Afrizal Soedarta

Dalam lintasan sejarah Tentara Nasional Indonesia, nama Susilo Bambang Yudhoyono  lahir 9 September 1949 dan Prabowo Subianto  lahir 17 Oktober 1951kerap disebut dalam satu tarikan napas. Keduanya lahir dari rahim Akademi Militer pada dekade 1970-an—SBY lulusan 1973 dan Prabowo 1974—dengan jarak satu angkatan yang tipis, tetapi dengan jejak karier yang berkembang dalam irama berbeda.

SBY dikenal sebagai perwira dengan spektrum penugasan yang luas di bidang staf dan diplomasi militer. Rekam jejaknya menanjak melalui jalur konseptual dan perencanaan strategis. Salah satu penugasan pentingnya adalah ketika dipercaya menjadi Chief Military Observer United Nations Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina, sebuah posisi yang menempatkannya dalam orbit diplomasi dan misi perdamaian internasional. Sebelumnya, ia juga pernah memimpin batalyon di Dili, Timor Timur—pengalaman lapangan yang melengkapi latar stafnya.

Sebaliknya, Prabowo menapaki jalur tempur yang lebih kental. Kariernya bertumbuh di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), serta kemudian di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Ragam operasi yang dipimpinnya membentuk citra sebagai perwira lapangan dengan orientasi operasional yang kuat.

Perbedaan jalur itu tercermin dalam kecepatan promosi. Pada 1995, Prabowo telah menyandang pangkat Mayor Jenderal dan menjabat Komandan Kopassus. Pada periode yang sama, SBY masih berpangkat Brigadir Jenderal dan bersiap menjalani penugasan di Bosnia. Tiga tahun berselang, pada 1998, Prabowo kembali melangkah lebih cepat dengan pangkat Letnan Jenderal saat dipercaya memimpin Kostrad. SBY meraih pangkat yang sama ketika menjabat Kepala Staf Teritorial TNI pada periode 1998–1999.

Namun, sejarah tidak hanya ditentukan oleh kecepatan. Dinamika politik 1998 menjadi titik balik. Prabowo digeser dari jabatan Panglima Kostrad menjadi Komandan Sesko TNI, sebuah perubahan yang menandai akhir kiprahnya di garis komando tempur. SBY pun tak pernah mencapai posisi Kepala Staf TNI AD ataupun Panglima TNI.

Dua jenderal, dua karakter, dua irama karier. Yang satu ditempa dalam operasi dan komando lapangan, yang lain mengasah diri di ruang staf dan diplomasi. Pada akhirnya, keduanya melangkah ke panggung politik nasional dan sama-sama menorehkan pengaruh dalam perjalanan republik—membuktikan bahwa sejarah memberi ruang bagi beragam jalan menuju kepemimpinan.

Sumber : wikipidea

(Afrizal soedarta)

Bagikan Disalin