Tahun Baru di Jam Gadang: Dentang Waktu di Bawah Langit Doa Minangkabau

3 menit membaca
Afrizal Soedarta

Bukittinggi.Top — Malam ini, 1 januari 2026 pukul 00.00 wib Jam Gadang tidak sekadar berdiri sebagai penunjuk waktu. Ia menjelma saksi. Saksi atas pergantian tahun yang datang tanpa sorak, tanpa cahaya kembang api, tanpa riuh pesta. Yang ada hanyalah hening—hening yang sarat makna, hening yang mengajarkan tafakur, sebagaimana diajarkan adat dan syarak di ranah Minang.
Di pelataran Jam Gadang, orang-orang berkumpul dengan langkah tertahan. Tidak ada teriakan hitung mundur, tidak pula gemuruh musik duniawi. Yang terdengar adalah desau angin Bukittinggi, lantunan doa lirih, dan dentang Jam Gadang yang pelan namun tegas, seolah mengingatkan: waktu adalah amanah, dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban.
Tahun berganti di saat Sumatera Barat masih dalam pilu. Bencana alam menyapa ranah ini dengan wajah keras: banjir, longsor, dan luka yang belum sembuh. Di nagari-nagari, ada rumah yang hilang, sawah yang rusak, dan keluarga yang terpisah oleh takdir. Dalam adat Minangkabau, duka satu adalah duka bersama. Maka malam tahun baru ini bukan milik pesta, melainkan milik doa.
Di bawah Jam Gadang, wajah-wajah tampak menunduk. Ada yang menengadah, ada yang terpejam. Doa mengalir, bukan dengan suara lantang, tetapi dari hati yang sadar akan kebesaran Allah. Sebab orang Minang diajarkan sejak dahulu: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Dalam susah, yang dicari bukan hiburan, melainkan petunjuk. Dalam duka, yang didahulukan bukan kesenangan, melainkan kepatuhan.
Dentang Jam Gadang terdengar seperti azan yang tak bersuara—mengajak merenung, mengajak kembali. Bahwa manusia hanyalah tamu di bumi Allah. Bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, melainkan dijaga. Bahwa setiap musibah adalah ujian, dan setiap ujian adalah jalan untuk mendekat kepada-Nya.
Tahun baru kali ini mengajarkan Minangkabau tentang makna berserah tanpa menyerah. Tidak ada pesta kembang api, karena duka belum berakhir. Tidak ada hura-hura, karena ada saudara yang masih berjuang di pengungsian. Yang ada hanyalah tekad untuk saling menguatkan—barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.
Jam Gadang berdetak, waktu terus berjalan. Namun malam itu, ia tidak mengajak lupa, justru mengajak ingat. Ingat pada mereka yang kehilangan. Ingat pada alam yang mesti dijaga. Ingat pada Allah yang Maha Kuasa atas segala kejadian. Tahun baru bukan tentang berganti angka, melainkan tentang memperbaiki diri dan mempertebal iman.
Dari Bukittinggi, doa-doa melangit untuk seluruh Sumatera Barat. Semoga luka dipulihkan, duka diganti kekuatan, dan musibah menjadi pelajaran. Semoga tahun yang datang lebih banyak menghadirkan keselamatan daripada cobaan, lebih banyak menghadirkan persaudaraan daripada perpecahan.
Dan Jam Gadang tetap berdiri, sebagaimana adat dan syarak tetap beriring. Menjadi pengingat abadi bahwa Minangkabau tidak pernah kehilangan arah—selama adat berdampingan dengan agama, dan agama berpijak pada Kitabullah.

(Afrizal soedarta)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *