BUKITTINGGI.TOP – Generasi Z (Gen Z) memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital. Dengan karakter yang adaptif, kritis, kreatif, serta akrab dengan teknologi, generasi muda dinilai memiliki potensi besar menjadi motor penggerak perubahan, baik dalam kehidupan politik maupun pelestarian budaya.
Pandangan tersebut disampaikan Asril SE, Anggota Komisi II DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi Partai NasDem, dalam melihat dinamika dan kontribusi Gen Z di tengah perubahan zaman(Selasa 3/11/2026).
Menurut Asril, perspektif Gen Z terhadap politik menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka cenderung tidak lagi terpaku pada formalitas politik maupun narasi elite, tetapi lebih tertarik pada persoalan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Isu keadilan sosial, kesehatan mental, perubahan iklim, transparansi pemerintahan, hingga masa depan lapangan pekerjaan menjadi perhatian penting generasi ini.
“Gen Z merupakan generasi yang kritis dan memiliki akses informasi sangat luas. Mereka tidak cukup hanya disuguhi janji atau retorika politik, tetapi membutuhkan bukti, transparansi, dan kebijakan yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” demikian perspektif yang disampaikan dalam melihat karakter politik generasi muda.

Media Sosial Menjadi Ruang Baru Aktivisme
Asril juga menilai, perkembangan media sosial telah mengubah cara generasi muda menyampaikan aspirasi dan melakukan kontrol sosial.
Jika sebelumnya kritik politik lebih banyak disampaikan melalui forum formal, demonstrasi, atau media konvensional, kini Gen Z memanfaatkan berbagai platform digital untuk menyuarakan pendapat melalui video kreatif, infografis, humor, hingga meme yang mudah dipahami dan menjangkau khalayak luas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa partisipasi politik tidak selalu harus berlangsung melalui jalur formal. Ruang digital telah berkembang menjadi wadah baru bagi generasi muda untuk berdiskusi, menyampaikan kritik, membangun kesadaran publik, sekaligus mengawal kebijakan pemerintah.
Namun, kebebasan berekspresi tersebut harus dibarengi dengan tanggung jawab, kecakapan literasi digital, serta kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh berita bohong maupun provokasi.
Globalisasi Bukan Alasan Meninggalkan Budaya Lokal
Di sisi kebudayaan, Gen Z juga menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Arus globalisasi membawa berbagai tren, gaya hidup, dan budaya populer dari berbagai belahan dunia. Meski demikian, kondisi tersebut tidak harus membuat generasi muda kehilangan identitas dan jati diri daerahnya.
Justru, menurut perspektif Asril, generasi muda memiliki peluang untuk memperkenalkan budaya lokal melalui pendekatan yang lebih modern, kreatif, dan inovatif.
Pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara-cara konvensional. Tradisi, kesenian, bahasa daerah, kuliner, hingga nilai-nilai adat dapat dikemas melalui konten digital yang menarik sehingga lebih mudah diterima generasi muda dan dikenal masyarakat luas.
Dengan demikian, budaya lokal tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat berkembang sebagai identitas yang hidup dan relevan di tengah masyarakat modern.
Bagi Sumatera Barat yang kaya akan adat, tradisi, dan filosofi Minangkabau, keterlibatan Gen Z menjadi sangat penting. Nilai-nilai luhur seperti Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah perlu terus diperkenalkan melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi dan maknanya.
Tantangan Polarisasi dan Disinformasi
Meski memiliki banyak peluang, Gen Z juga tidak terlepas dari berbagai tantangan. Algoritma media sosial dapat menciptakan ruang informasi yang terfragmentasi, memperkuat polarisasi, bahkan membuat seseorang hanya terpapar informasi yang sejalan dengan pandangannya sendiri.
Selain itu, penyebaran disinformasi dan konten provokatif dapat memengaruhi cara generasi muda memahami persoalan politik maupun sosial.
Karena itu, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta kedewasaan dalam menyikapi perbedaan menjadi bekal penting yang harus dimiliki generasi muda.
Gen Z perlu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar konsumen informasi. Mereka harus mampu membedakan fakta dan opini, memeriksa kebenaran informasi, serta menggunakan media sosial untuk membangun ruang diskusi yang sehat dan produktif.
Gen Z Penentu Masa Depan Daerah dan Bangsa
Pada akhirnya, peran Gen Z dalam era globalisasi tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mereka menguasai teknologi. Lebih dari itu, generasi ini diharapkan mampu menghadirkan gagasan, mengambil bagian dalam proses pembangunan, menjaga nilai-nilai kebangsaan, serta memperkuat identitas budaya lokal.
Keterlibatan generasi muda dalam politik harus diarahkan pada partisipasi yang konstruktif, sementara kreativitas mereka dalam ruang digital perlu menjadi kekuatan untuk mempromosikan budaya dan potensi daerah.
Asril SE memandang bahwa generasi muda harus diberikan ruang, kepercayaan, dan kesempatan untuk berkontribusi. Sebab, masa depan daerah dan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan para pemimpin hari ini, tetapi juga oleh kualitas generasi yang dipersiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.
Gen Z bukan sekadar generasi pengguna teknologi, melainkan generasi yang berpeluang menjadi penggerak perubahan. Kritis dalam politik, cerdas bermedia sosial, serta bangga terhadap budaya sendiri merupakan modal penting untuk menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri bangsa.
(Fendy Jambak)
